2010/08/28

TRAGEDI LEPASNYTA PULAU SIPADAN -LIGITAN

lepasnya Pulau Sipadan-Ligitan dari pangkuan Ibu Pertiwi adalah sebuah tragedi. Setelah bertahun-tahun terjadi baku klaim, akhirnya Pengadilan Internasional di Den Haag, Belanda, memutuskan kedua pulau itu sebagai milik Malaysia, pada 2003. Sampai di situ, urusannya beres. Tapi, bagaimana dengan hak atas perairan di sekitarnya? Itu yang masih menjadi sengketa.Maklum, di perairan itu terkandung minyak dan gas. Militer Malaysia secara provokatif melakukan patroli, termasuk di kawasan Ambalat, perairan yang selama ini diklaim sebagai milik Indonesia. Nyaris saja terjadi insiden. Mengapa mereka begitu provokatif? Mereka mengetahui, kekuatan laut Indonesia tidak seberapa.Situasi buruk itu dijawab dengan pengadaan kapal-kapal perang baru di jajaran TNI Angkatan Laut (AL). Kini TNI-AL menambah armada lautnya dengan empat unit kapal korvet baru kelas SIGMA (ship integrated geometrical modularity approach). Yang pertama, KRI Diponegoro-365, diluncurkan dari pabrik Schelde Naval Shipbuilding (SNS) di Vlissingen, Belanda, pada 3 Juli lalu. Serah terima KRI ini pada waktu itu diteken oleh Kepala Staf TNI-AL Laksamana Slamet Soebijanto dan Admiral J.W. Kelder dari Angkatan Laut Kerajaan Belanda.Pembelian empat korvet itu dilakukan secara bertahap. Januari 2004, Indonesia memesan dua unit ke Vlissingen. Mei 2005, dua unit lainnya dipesan, meski dokumen kontraknya baru diteken pada Januari 2006. Pilihan TNI-AL jatuh pada jenis korvet, kapal perang ukuran kecil, karena pengoperasiannya lebih fleksibel dan bisa diproduksi dalam waktu relatif cepat.Ketika baru dilantik sebagai Kepala Staf TNI-AL, menggantikan pejabat lama Laksamana Slamet Soebijanto, Laksamana Sumardjono menyatakan bahwa untuk melindungi wilayah perairan RI, idealnya TNI-AL memiliki kurang lebih 270 KRI. Namun, karena keterbatasan anggaran, pilihannya jatuh pada korvet kelas SIGMA.Menurut pihak pabrikan, Schelde, konsep SIGMA memungkinkan pemakai menyesuaikan desain kapal dengan kebutuhan operasionalnya. Ia bisa menjalankan tugas patroli pantai, korvet, dan frigat ringan. Desainnya bisa disepadankan dengan karakteristik operasi dan daya gempurnya, selain lebih murah.Schelde menyatakan, sebagian besar biaya tidak dialokasikan untuk tampilan luar, tidak pada struktur kerangka, dek dalam, dan kompartemen, melainkan lebih pada pengaturan internal dan kepadatan perlengkapan. Nah, pada SIGMA, kekurangan itu diimbangi dengan fleksibilitas perlengkapan, kemudahan mendapat suku cadang, dan kepraktisan dalam pemeliharaan, tanpa mengurangi kemampuan operasionalnya.Di antara seluruh angkatan laut dunia, TNI-AL adalah pemilik pertama kelas SIGMA. Setelah menempuh perjalanan selama 40 hari, KRI Diponegoro-365 merapat di Dermaga 115 Tanjung Priok, Jakarta, 31 Agustus lalu. Menyusul kemudian pesanan kedua, KRI Hasanuddin-366, tiba dari “negeri kincir angin” itu di Pelabuhan Belawan, Medan, pada 23 Januari lalu.KRI Hasanuddin-366 selanjutnya menemani kakaknya, KRI Diponegoro-365, memperkuat Komando Armada RI Kawasan Timur yang berpangkalan di kota Surabaya. Dalam perjalanannya ke Surabaya, 31 Januari pekan lalu, TNI-AL mengajak sejumlah wartawan, termasuk Gatra, untuk bergabung dan melihat dari dekat kemampuan yang dimiliki kapat terbaru TNI-AL itu.Bertolak dari Dermaga Tanjung Priok tepat pukul 15.00 WIB, molor lima jam dari rencana, kapal pun dipacu kencang 24 knot. Bahkan beberapa kali melakukan manuver dalam kecepatan 27 knot, sekitar 45 kilometer per jam, kurang 1 knot dari kemampuan kecepatan maksimumnya.Uji coba kecepatan itu berkat “pesanan” mantan petinggi TNI-AL bintang empat Arief Kusharyadi dan bintang dua Ardius Zainuddin, serta Kepala Pelaksana Harian Badan Koordinasi Keamanan Laut, Laksamana Madya Djoko Sumaryono, yang ikut dalam pelayaran tadi. Bagi pelaut sejati, konon, merasakan deburan ombak dan empasan angin laut di atas kapal perang menjadi semacam candu yang tidak bisa hilang dari tubuh.Wartawan juga diajak menjelajahi beberapa ruang, dari palka, ruang mesin, ruang kesehatan, sampai ruang kendali operasi. Di ruang kendali operasi yang terbilang rahasia inilah kami melihat kemampuan yang dimiliki KRI Hasanuddin. Komandan Satuan Tugas Penyebarangan KRI Hasanuddin-366, I Gusti Kompiang Aribawa, menyatakan bahwa rakyat perlu mengetahui kemampuan kapal ini karena korvet ini sesungguhnya milik rakyat.“Yang tak bisa dibocorkan ialah operasional pemakaian dan strategi tempurnya,” kata I Gusti Kompiang. Di ruang kendali operasi, tampak beberapa layar monitor. Sebuah layar dengan bantuan kamera optikal mampu menangkap objek kapal dari jarak 2 meter sampai 10 kilometer. Menurut Mayor Dwi Cahyo, Kepala Departemen (Kadep) Elektro, kapal ini memiliki kemampuan peralatan anti-serangan udara, anti-kapal atas air, dan anti-kapal selam. “Oleh sebab itu, secara prinsip memiliki kemampuan untuk melacak dan mengenali objek di udara, di atas permukaan laut, dan di dasar laut,” katanya.Untuk pengindraan jarak jauh, Mayor Salim, Kadep Navigasi, menyatakan bahwa kapal itu dilengkapi sistem sensor dan radar dengan kemampuan akurasi lacak yang tinggi. “Kapal lain yang berjarak 16 kilometer dan pesawat udara bejarak 105 kilometer bisa diidentifikasi,” ujarnya. Untuk objek kapal, misalnya, Mayor Salim mengatakan bahwa posisi, jarak, kecepatan, arah kapal, dan status kapal bisa diidentifikasi dengan cepat. Dalam kondisi tempur, peralatan perang dapat melakukan tugas secara otomatis, karena dilengkapi sensor senjata pengarah alokasi objek dan melakukan penguncian objek.Kalau kapal generasi terdahulu masih anolog, empat KRI terbaru itu sudah memakai sistem kontrol senjata elektronik terintegrasi digital. Sistem ini terhubung dengan beberapa jenis senjata yang dibawa, seperti rudal anti-kapal permukaan Exocet MM 40 dan rudal anti-udara Tetral. Sedangkan meriam utamanya adalah Oto Melara Super-Rapid 76 mm, dengan kemampuan tembak 130 butir peluru per menit.KRI Hasanuddin juga memiliki tiga peluncur torpedo anti-kapal selam, masing-masing di kiri dan kanan geladak kapal. Kapal kelas SIGMA ini pun dilengkapi dua sekoci cepat dan mampu membawa serta mengisi bahan bakar helikopter dengan berat maksimal 5 ton di dek belakang. Untuk saat ini, rudal Exocet dan torpedo belum terpasang. Namun, paling lambat tahun 2009, semua kapal SIGMA akan dipersenjatai secara lengkap seiring dengan kehadiran dua kapal SIGMA berikutnya, KRI Sultan Iskandar Muda-367 dan KRI Frans Kaisiepo-368.Laksamana Madya Djoko Sumaryono menyatakan, kehadiran korvet kelas SIGMA terbaru itu jelas akan menambah kemampuan patroli TNI-AL. Laut tidak bisa dikuasai sepenuhnya, tapi dapat dikendalikan secara terbatas. Ancaman di laut pun makin beragam, dari soal kedaulatan sampai kejahatan ekonomi. “Tentu KRI-KRI baru ini bisa memberi sinyal kepada negara lain bahwa kita mampu di laut,” katanya.Secara terpisah, di depan perwira pertama yang membawa KRI Hasanuddin dari Vlissingen ke Surabaya, Djoko mengharapkan agar amanat pertahanan rakyat kepada TNI-AL dijawab dengan penguasaan dan updating teknologi secara terus-menerus. Suatu saat, Djoko menambahkan, jika sudah lengkap, kapal-kapal baru itu akan mampu menjadi alat pertahanan yang mumpuni. Betul, Komandan, jangan sampai Ambalat mengulang kasus Sipadan-Ligitan!

Peralatan Perang Indonesia

Moskow, GhaboNews - Pemerintah Rusia menyiapkan kredit sebesar 1 milyar dolar atau sekitar Rp 9 triliun untuk penyediaan peralatan militer Indonesia. Hal tersebut seperti dikatakan juru bicara kepresidenan Rusia, Sergei Prikhodko, Selasa (4/9).Jika pemerintah Indonesia sepakat untuk membeli peralatan militer Rusia, maka penandatanganan kerja sama tersebut akan dilakukan bersamaan dengan kunjungan Presiden Vladimir Putin ke Jakarta, Kamis (6/9)."Jumlah kreditnya mencapai satu milyar AS atau sekitar 734 million euro," ujar Sergei Prikhodko kepada kantor berita AFP. Menurutnya, Indonesia tidak akan tergesa-gesa mendatangkan peralatan militer dari Rusia. Namun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Putin sudah sepakat mengadakan pembicaraan tentang kerja sama militer di Jakarta, Kamis besok.
Indonesia merupakan konsumen peralatan militer Rusia yang terbesar. Pada Agustus silam, Indonesia membeli enam pesawat tempur Sukhoi-30 senilai 330-350 juta dolar AS.Selain dalam penyediaan peralatan militer, Sergei mengatakan, kedua negara juga akan membahas kerja sama dalam bidang minyak. "Kami juga bersedia menggelontorkan dana untuk minyak di Indonesia," tambah Sergei tanpa menyebutkan berapa dana yang disiapkan Rusia untuk kerja sama tersebut.

SEANDAIKATA KITA BERPERANG

Rabu, 26 Maret 2003 15:11 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta:Pengamat militer Hasnan Habib mengatakan tidak sepakat kalau dikatakan pertahanan Indonesia hanya mampu bertahan terhadap serangan Amerika Serikat (AS) selama sepekan. Menurutnya, kekuatan pertahanan Indonesia adalah dengan strategi gerilya. “Mana mau tentara AS masuk ke hutan-hutan?” kata Habib kepada Tempo News Room yang menghubungi melalui telepon, Jakarta Rabu (26/3) siang.Pendapat Habib dikemukakan guna menanggapi pernyataan Presiden Megawati Soekarnoputri yang mengatakan Indonesia tidak akan mampu bertahan dari serangan AS dalam sepekan jika diserang. Sehingga, Indonesia tidak bisa keluar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai bentuk protes terhadap agresi militer AS terhadap Irak.Menurut Habib, Indonesia akan mampu bertahan jika rakyat Indonesia saling bersatu dan tidak menyerang yang lain. Jika rakyat Indonesia dapat melakukannya, kata bekas Asisten Perencanaan Umum Hankam itu, perang akan mampu bertahan lama. “Jika rakyat bersatu, selama 100 tahun juga perang tidak akan berakhir,” kata dia sambil tertawa.Namun demikian, Habib membenarkan bahwa saat ini angkatan perang Indonesia menghadapi masalah yang serius. Dua masalah utama yang saat ini dihadapi Tentara Nasional Indonesia (TNI) adalah kekurangan dana operasional dan peralatan yang tergolong usang. “Diantara lima negara ASEAN pertama, peralatan perang Indonesia yang paling menyedihkan,” katanya.Menurut mantan duta besar Indonesia untuk Amerika Serikat ini, keputusan pemerintah untuk tidak keluar dari PBB sudah tepat. Ia melihat bahwa jika keluar dari PBB, Indonesia tidak akan memiliki akses ke lembaga-lembaga dana internasional seperti Bank Dunia. Selain itu, keadaan dunia akan kembali kepada hukum rimba, sehingga masing-masing negara akan bertindak sendiri-sendiri.Walau begitu, dia juga menyadari bahwa lembaga internasional ini harus direformasi sehingga demokratis dan mencerminkan keadaan dunia saat ini. Salah satu bentuknya adalah penghapusan hak veto lima negara besar, termasuk Amerika. Kinerja PBB sendiri hingga saat ini sangat memprihatinkan. “Mana ada konflik di dunia ini yang berhasil diselesaikan PBB,” kata dia.